Rihlah Alexandria [part II]

                Langkah kami selanjutnya menuju makam penulis karya monumental Burdah, Syeikh Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Hasan al Bushiri.


                Perjalanan menuju makam tersebut tidak jauh dari rumah kawan yang kita singgahi. Kurang lebih 15 menit menggunakan mobil tremco, kami disuguhi panorama pantai Alexandria yang begitu indah. Jauh lebih indah dari apa yang disajikan di film Ketika Cinta Bertasbih. Kita bisa menikmati langsung tepian pantai Alexandria selama perjalanan.
 

               Waktu itu, jam menunjukkan pukul 3 sore lebih. Kami turun dari tremco dan tak lupa mengabadikan kebersamaan kami di tepi pantai sebelum melangkah menyeberang jalan untuk menuju masjid komplek makam Abu al Abbas Mursiy, guru thoriqoh Syadziliyyah, dan beberapa putra beliau.
Setelah itu baru menuju makam Syeikh al Bushiri. Penyair yang selama ini menyihir ribuan pembacanya, sekarang aku kunjungi.
 

              Sederhana. Sungguh sederhana makam beliau. Memang kebanyakan makam para salafusshaalih di Mesir kurang begitu dirawat oleh penduduk sekitar.
            Selang menghaturkan beberapa bingkisan bacaan ayat quran, kami berencana meneruskan perjalanan menuju makam Syeikh ad Dasuuqiy.
Tapi, setelah kami keluar dan memandang sunset yang menjadi pertanda matahari akan mematikan saklarnya, kami mengurungkan niat.
Satu komplek makam yang akan kami singgahi batal. Selain syeikh ad Dasuuqiy, kata paklikku, ternyata juga ada beberapa sahabat nabi di sekitar komplek itu.
           Agak sedikit kecewa di hati kami, tapi tak apalah..
Semoga waktu bisa kembali menjadi saksi langkah kami di kemudian hari.
Yang terbersit di hati kami setelah itu ialah mencari masjid untuk sholat Maghrib. 

            Kami melanjutkan langkah mendekati benteng Qitbay. Setelah sholat bisa langsung menikmati pemandangan benteng Qitbay, pikir kami.
Namun, setelah kami terjun ke TKP ternyata hati berkata lain. "Kita ada rukhsah untuk jamak ta'khir", kata salah satu paklikku, lik Muhakam.
 

            Setelah kami pikir, iya juga. Agenda berubah dari sholat menjadi ziarah menikmati benteng Qitbay. hehe
            Ada kisah seru di Benteng Qitbay. Haytsam, nama anak kecil berkebangsaan Mesir yang menggemeskan, bergabung dan bercengkerama dengan kami.
            Nantikan Haytsam, 3 Saudara laki-lakinya, dan yang tidak ketinggalan Maryam, kakak perempuannya.
Sampai jumpa, kawan.. Terima kasih..


tepi pantai Alexandria

menyeberang jalan menuju makam

nampak masjid komplek makam Syeikh Abbas Mursi

depan masjid, ramai penduduk nampak seperti pasar malam komplit dengan permainannya

 arsitektur masjid.

depan makam putra syeikh Abbas Mursi

keluar untuk menuju makam Syeikh Abbas Mursi yang berada terpisah.

mengabadikan momen setelah menghaturkan bingkisan bacaan ayat quran untuk ahli kubur.

foto bersama.

papan nama yang terpajang di atas pintu makam.

makam Syeikh al Bushiri, penulis syair-syair Burdah.

anak kecil yang aku temui di dalam makam setelah ziarah. Saking senangnya dengan orang asing, ia minta foto bersama.

 melanjutkan langkah dan nantikan langkah kami selanjutnya.. :)

Comments

(2)

Post a Comment