Koma dan Titik

(telah dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 3 Februari 2013)

Dari sudut jauh, aku melihat titik cahaya membias-lebar hingga membuat mataku terbuka melihat semua yang ada. Namun,
ada yang aneh dari apa yang aku lihat. Semuanya putih. Putih tanpa ada benda bertepi gelap dan warna hitam yang menunjukkan perspektif pandang. Tidak ada warna selain putih. Sesaat kemudian, semuanya berjalan seperti tidak asing selama ini.
Pagi itu, ibu membuat ote-ote dibantu adikku, Ninis, yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar. Mereka berdua nampak sibuk. Tangan mereka kotor oleh tepung basah. Memasukkan beberapa potongan sayur seperti wortel, kecambah dan yang lain ke dalam adonan tepung dari wadah itu. Aku rasa hal itu tak lama berselang. Setelah aku melewati kelambu pintu yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah, aku terkejut dengan apa yang ada di ruang tamu. Banyak sekali orang-orang berkumpul di ruang tamu. Ada dari wajah mereka memasang tangis. Aku masih belum paham tangis apa itu. Tapi, kenapa ibu dan adikku, Ninis, membuat ote-ote?
Ada tubuh terselimuti kain batik kecoklatan di atas meja panjang namun kaki meja itu tidak terlalu tinggi. Aku masih bisa berlutut dan menjangkau untuk meletakkan pipi basahku. Aku tidak percaya. Aku tidak yakin orang yang terbujur pucat pasi tanpa nafas itu ialah…
***
“Tri, jangan lupa bawa ote-ote ibumu ke warung Bu Yat di belakang SD, ya?”, kata Bapak sebelum mengawali kayuhan becak tuanya di suatu pagi.

“Iya, pak.. Siap lah pokok’e. Nanti sekalian aku ngambil uang ote-ote jatah kemarin..”, senyumku menghiasi jawaban untuk bapak tercintaku.

Kayuhan demi kayuhan untuk mengantar aku dan adikku ke sekolah mengawali setiap pagi bapak. Sebenarnya, dari awal aku memilih jalan kaki tanpa harus diantar oleh bapak dengan becak tuanya. Tapi, bapak selalu memaksaku ikut dengan becak tuanya. Alasannya, karena perempatan tempat bapak memarkirkan becak dan menunggu penumpang sangat dekat dengan sekolahku, sejalan pula. Jadi, tiap pagi aku dan adikku, Ninis, selalu diantar oleh bapak dan becak kesayangannya itu. Becak yang juga menjadi sarana pekerjaan-tunggal bapak.
            Bapak tidak pernah sekolah. Sekolah Rakyat pada waktu bapak kecil jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari rumah, belum lagi harus membayar uang bulanan. Padahal, untuk menjaga dapur agar tetap berasap saja bapak harus mencari uang seorang diri semenjak mbah kakung dan mbah putriku dibawa paksa orang tak dikenal dengan pakaian militer.
Pada suatu hari, adik-mbah kakung mengajaknya tinggal bersama. Bapak kemudian hidup dengan adik-mbah kakungku yang telah lama ditinggal istrinya pergi mencari uang di ibu kota, sementara ia belum meninggalkan anak yang hidup. Tiga kali mengandung, semuanya keluar tanpa nyawa. Ada juga yang masih berupa seonggok janin.
Hingga ajal menjemput adik-mbah kakungku itu, istrinya pun masih tak ada kabar. Entah dimana. Padahal, kiriman wesel tak pernah telat darinya. Begitu pula dengan alamat pengirim wesel itu, tak pernah tetap. Pernah tertulis Semarang di bagian pengirimnya, Bandung, Jakarta. Entahlah. Entah dimana.
Bapak mendapat becak ini juga dari tinggalan adik-mbah kakung. Adik-mbah kakung menyimpan lebihan uang wesel setelah ia gunakan untuk kehidupan dalam sebulan. Dalam setahun ia sudah mampu membeli becak. Becak tergolong kendaraan yang tidak murah di masa itu, di saat bapak berumur 12 tahun. Karena, hanya kendaraan itulah yang digunakan untuk membawa penumpang dari perempatan sebelum Jembatan Merah menuju makam Sunan Ampel.

“Nis, mbak besok mau sekolah di SMPN Tunas Bangsa. Tahu kan? Pernah dengar nama sekolah itu kan, Nis?”, tanyaku mengajak adik membuat harapan indah di pagi itu.

“Pak, setahun lagi Retno tamat SD.. Bisa ndak ya sekolah di SMPN  Tunas Bangsa? SMP di samping kantor kecamatan itu lho, pak..”, pertanyaan sama aku tujukan pada bapak yang sedari tadi mengayuh becaknya.

“Bisa, pasti bisa. Kamu pasti bisa jika kamu mau berusaha, Tri..”, jawab bapak dengan bijak.

“Tapi, itu kalau kamu dapat biaya dari pemerintah. Besok, jangan peringkat 2 lagi ya? Harus 1, biar dapat sekolah gratis di SMP yang kamu inginkan itu..”, tambah bapak.

“Iya, pak.. Tri mulai hari ini mau berusaha belajar lebih giat. Pokok’e ranking setunggaaal..”, sorak soraiku tidak lama sebelum bapak menginjak rem becak agar berhenti tepat di samping gapura SD.
***
Semenjak pagi itu, aku selalu bersemangat untuk sekolah. Bagaimana tidak? Samping kiri jalan, tepatnya belokan sebelum sekolahku terpasang sebuah baliho besar SMPN Tunas Bangsa. Setiap kali berangkat, aku melihat ada asaku di sana. Ada cita-citaku di sana. Ada keinginan yang semakin hari semakin besar setiap melewatinya, pulang dan pergi sekolah.
Namun, semenjak pagi itulah, terakhir kalinya aku berbicara pada Ninis. Aku sudah tidak mungkin bisa berangkat bersama adikku yang pendiam dan penurut itu. Aku tidak akan menemukan keindahan pagi bersama adik tersayangku. Sekarang, aku hanya bisa duduk leluasa, longgar, dan sepi di atas becak yang dikayuh bapak. Bapak cukup tegar. Ia hanya menangis saat benar-benar teringat Ninis. Ya. Ninis dan juga ibu. Ia hanya menangis setiap doa usai sholat. Di setiap hari dan setiap kegiatan yang menjadi kewajibannya, bapak tidak pernah terlihat menangis. Hanya terlihat sorot mata yang tidak sesemangat hari-hari kemarin. Ada sendu yang bisa dibaca dari sembab kelopak mata bapak yang kian hari kian menggelap.
Ibu dan Ninis meninggalkan kami berdua. Kami tidak rela ibu dan Ninis pergi. Pergi selamanya dengan cara sangat tersiksa oleh panas api. Mereka berdua terjebak dalam kebakaran rumah sehari setelah pagi yang menjadi memori tersendiri bersama Ninis dan ote-ote ibu.
Hari itu, Ninis jatuh sakit. Demam panas. Ia tidak berangkat sekolah dan akulah yang menyampaikan surat izin yang dibuat ibu untuk wali kelas Ninis. Ternyata, Tuhan telah mengatur semua. Ya. Dengan aturan Tuhan seperti ini cukup membuat aku agak merasa tak menentu antara marah, tanya, tak terima, entahlah. Bagaimana bisa? Aku tidak hanya kehilangan ibu, tapi juga Ninis, adikku, dalam satu waktu dan satu kobaran api.
Cukup.. Cukup.. Aku sebenarnya tak kuasa kembali menulis dan menuangkan panjang lebar ingatanku tentang ibu dan Ninis pada cerita ini. Aku tak tega jika harus mengingat betapa panas api memaksa mereka berdua melepas ajal. Aku dan bapak tidak tahu apa yang menjadi penyebab rumah kami yang hampir semua dari bambu lapuk itu terbakar. Yang jelas hanya ada satu kemungkinan rumah kami bisa terbakar : kompor.
Kompor gas subsidi ibu satu-satunya penyebab rumah kami terbakar. Mungkin, tabung gas kompor ibu bocor, meledak, atau entahlah. Yang jelas, ibu dan Ninis sudah pergi. Pergi selamanya. Aku tak tega, sungguh tak tega melihat hitam legam kulit di badan ibu. Apalagi Ninis yang sebagian kulitnya terpisah, melekat pada tiang yang juga menjatuhinya saat api melalap rumah.
***
Ada tubuh terselimuti kain batik kecoklatan di atas meja panjang namun kaki meja itu tidak terlalu tinggi. Aku masih bisa menjangkau untuk meletakkan pipi basahku. Aku tidak percaya. Aku tidak yakin orang yang terbujur pucat pasi tanpa nafas itu ialah...
***
“Tin.tiiiin.. Sreeeeiiiitttt… Brak!”
Suara klakson dari belakang dan benturan keras itu yang aku ingat sebelum semuanya menjadi gelap. Aku tak ingat ada bapak yang juga bersamaku. Ia di belakang mengayuh becaknya. Ah, iya. Bapak di belakang mengayuh becaknya. Lantas, dimana bapak? Dimana aku sekarang?
Gelap. Aku tak tahu mataku terpejam ataukah membuka. Yang jelas, semua nampak hitam. Tidak ada yang aku rasa kecuali serasa memar di kepalaku bagian belakang. Gelap. Aku berusaha membuka kelopak mataku. Gelap. Bagaimana ini? Aku yakin mataku sudah terbuka lebar tapi kenapa yang ada hanya gelap?
Dari sudut jauh, aku melihat titik cahaya membias-lebar hingga membuat mataku terbuka melihat semua yang ada. Namun, ada yang aneh dari apa yang aku lihat. Semuanya putih. Putih tanpa ada benda bertepi gelap dan warna hitam yang menunjukkan perspektif pandang. Tidak ada warna selain putih. Sesaat kemudian, semuanya berjalan seperti tidak asing selama ini.
Pagi itu, ibu membuat ote-ote dibantu adikku, Ninis, yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar. Mereka berdua nampak sibuk. Tangan mereka kotor oleh tepung basah. Memasukkan beberapa potongan sayur seperti wortel, kecambah dan yang lain ke dalam adonan tepung dari wadah itu. Aku rasa hal itu tak lama berselang. Setelah aku melewati kelambu pintu yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah, aku terkejut dengan apa yang ada di ruang tamu. Banyak sekali orang-orang berkumpul di ruang tamu. Ada dari wajah mereka memasang tangis. Aku masih belum paham tangis apa itu. Tapi, kenapa ibu dan adikku, Ninis, membuat ote-ote?
Ada tubuh terselimuti kain batik kecoklatan di atas meja panjang namun kaki meja itu tidak terlalu tinggi. Aku masih bisa berlutut dan menjangkau untuk meletakkan pipi basahku. Aku tidak percaya. Aku tidak yakin orang yang terbujur pucat pasi tanpa nafas itu ialah bapak.

“Bapaaaaaaak..”, teriakku sekencang mungkin.

Badanku lemas. Lemas tak kuasa membendung air mata.

“Bapaak,”

Ada yang aneh. Orang di sekelilingku mengacuhkanku. Mereka mengacuhkan teriakan dan tangisku sedari tadi. Mereka sibuk dalam sedih dan nuansa duka mereka sendiri. Tak ada yang mendekatiku, membujuk tangisku agar terdiam. Apa mereka menganggap tangis dan teriak seorang anak yang bapaknya meninggal ialah hal wajar?
Aku masih mencoba mencari jawaban. Melihat sekeliling. Tiba-tiba ada keributan membelah kerumunan orang-orang yang sedari tadi berkumpul. Aku menemukan sekelompok ibu-ibu sedang membantu perawat memindahkan satu tubuh tertutupi kain batik coklat yang terlihat basah dari depan rumah. Nampak ada mobil ambulans berhenti di depan rumah. Kemudian, mereka membaringkannya di atas meja panjang tepat di samping jasad bapak. Aku tak asing dengan wajah itu. Ternyata, itu wajahku.

 Cairo, 29 Januari 2013
11.51 PM bersama musim dingin sehabis acara BINSAI di Tub Ramly.

Comments

(3)
  1. aku melihat titik membias-lebar hingga membuat mataku terbuka melihat semua yang ada. Namun, ada yang aneh dari apa yang aku lihat. Semuanya koma. #eh

    ReplyDelete
  2. di Mesir ada ote-ote g Hid?
    ini "aku"nya Tri apa Retno ?
    apa Tri Retno? :D
    #nggakpenting

    ReplyDelete
  3. hehe, lucu ya, mba' ning? :)

    Ada jika ada yang membuatnya. hehe
    Aku di situ yang jelas bukan penulis, karena penulis di sini masih eksis wal afiat. hhaha

    ReplyDelete

Post a Comment