Berebut Senja

“Aku sendiko dhawuh dengan ibuku, Di..”, kata Maknun pada sahabat karibnya, Adi, yang selama 3 tahun menemaninya itu.
“Jadi, kalau kamu tanya apakah aku mencintainya, ya jawabannya setelah ibuku ‘sreg’ dulu, baru aku menjawabnya.”, imbuh Maknun.

“Ya, kalau begitu aku tanya ke sampeyan, gus.. Sampeyan punya berapa persen dengan putri kyai di Probolinggo itu? Berapa persen dengan Ning Rere, Magelang? Dan berapa persen dengan Ning Naura, Bangkalan, hayo.. hehe?”, sergah Adi pada Maknun yang memang sebenarnya memunyai embel-embel ‘gus’ di depannya. Gus Maknun. Tapi, pada orang kebanyakan, ia menolak dipanggil demikian.

“Ada satu gadis yang rencananya dijodohkan padaku, Di.. Tapi, bibit pesimis di hatiku sudah kadung disemai. Aku yakin ibu tidak memberi lampu hijau pada gadis yang satu itu.”, kata Gus Maknun dengan nada bak menuruni bukit.
“Siapa, gus? Siapa? Kok aku baru dengar.. Kabar yang tersebar ke kita kan cuma nama-nama itu saja? Iya, kan?”, Adi penasaran dengan pernyataan Gus Maknun.
“Kamu janji nggak cerita ke orang lain?”, tanya Gus Maknun memastikan.
“Iya, gus.. Sumpah lah.. Aku berani deh dikutuk jadi orang sholeh. Hehe”, jawab Adi sembari guyon.

Obrolan mereka menggema dalam dingin udara-malam Kairo di penghujung musim dingin kali ini. Gus Maknun dengan cerita lepas yang kadang terdengar konyol dengan pembawaan khasnya. Adi, alumni pesantren Abah Gus Maknun sekaligus sahabat karibnya yang tidak jarang melemparkan joke lucu dan sebenarnya tidak disengaja. Mereka berdua bersama sejak Adi memutuskan berangkat ke Kairo 3 tahun lalu. Iya. Gus Maknun lebih dulu ada di Kairo. Ia sudah 8 tahun, jauh sebelum Adi berangkat.

8 tahun bukan waktu yang pendek dan mudah bagi Gus Maknun. Ia harus --meminjam istilah bung Iwan Fals-- berkelahi dengan waktu. Bekerja guna membantu mengirim biaya adik terakhirnya yang masih di bangku kuliah. Pesantren dan santrinya lapuk dimakan zaman semenjak Abahnya meninggal. Mungkin hal itu yang membuat Gus Maknun merasa risih dipanggil ‘gus’.

Bekerja sembari belajar lebih tepat ia sandang ketimbang sebaliknya. Walaupun, waktu yang ada tidak dihabiskan semua oleh kerja. Tapi, lelah yang tidak mungkin segera lepas setelah-bekerja itulah yang memakan waktu dan menjadi tumbal dalam belajarnya di Universitas Al Azhar, Kairo.
***

“Di, coba lihat sini..”, seru Gus Maknun pada Adi yang ada di ruang tengah.
“Ada apa, gus?”
“Ini, coba lihat.. Ini Ning Naura yang dari Bangkalan itu.. Gimana menurut kamu?”, tanya Gus Maknun sambil mengarahkan telunjuknya berulang-ulang pada laptopnya.
“Hehe, cantik, gus.. Hmm, tapi karakternya gimana dulu?”, tanya Adi dengan nada kurang meyakinkan.
“Eh, lha sampeyan kenal dari mana nih? Ahai, makcomblangnya siapa?”, imbuh Adi.

Nampaknya, Gus Maknun tidak menanggapi apa yang ditanyakan Adi. Telinganya seolah tertutup rapat dan memutar musik gembira sekeras-mungkin hingga adanya-Adi seperti tidak-adanya. Senyum merekah dari bibirnya. Melihat foto lain. Tersenyum lagi. Seperti tak lelah bibir itu melahirkan senyum.

Yo wes, kalau kayak gini ini sudah fly. Jangankan aku. Karo pengeran ae mboh-mbohan eling..”, gerutu Adi sambil kembali ke ruang tengah.
Huss! Ngawur! Justru ini sedang puncaknya ingat pada pengeran kang nggawe urip. Mahakarya Tuhan ini sedang aku apresiasi sehingga berujung syukur, Di.. hehe”, jawab Gus Maknun tanpa merubah pandangan ke layar laptopnya.

Hari berikutnya, Gus Maknun begitu ceria. Tak jarang senyum merekah dari bibirnya. Aktivitasnya gesit, lincah, dan lebih sumringah dari hari yang lalu. Selain itu, tahun ini memang ada pesan tegas dari ibunya yang kadang membuat ia sadar akan hal itu dan merasa senang. Tapi, di sisi lain ia merasa was-was jika ia menuruti titah ibunya.

“Nun, kowe ndak usah kerja lagi ya.. Ibu ndak ridho pokok’e. Ndak ridho jika kamu kerja lagi. Sudahlah, segera diselesaikan kuliahmu itu. Untuk masalah biayamu nanti ibu kirim. Adikmu itu juga sudah siap ngirim kok, Nun. Ia sudah jadi ‘orang’ di perusahaan mobil di Jakarta.”

Kalimat itu seringkali terulang di saat Gus Maknun terdiam, setelah salat, atau bahkan saat berkumpul bersama teman-temannya yang mengarah pada obrolan tentang kerja. Dalam dirinya ada perkelahian hebat antara yakin dengan cukupnya kiriman dari Indonesia yang ditempeli keharusan irit dan mencari celah untuk tidak melanggar titah ibu dengan mencerna-ulang kalimat-kalimat itu. Belum lagi, ini merupakan tahun terakhir menurut keyakinan kuat dan rencananya.

Hari-hari semakin mendekati imtihan (Arab: ujian) akhir. Namun, di sisi lain hari-hari juga membuatnya semakin dekat dengan Ning Naura. Gus Maknun terbilang sering berinteraksi dengan putri kyai dari Bangkalan itu. Entahlah. Yang pasti keduanya bertepuk dan bertemu sehingga menghasilkan bunyi. Bukan sad ending seperti yang ada di cerita-cerita roman: cintanya bertepuk tapi tidak bertemu sehingga tidak menghasilkan bunyi yang sekedar ‘plok’.

Hal itu berlanjut sampai di malam imtihan. Ning Naura mengiriminya sms.
“Gus, selamat belajar, ya.. Selamat berusaha. Semoga najah dan segera menemui aku dan keluargaku di Bangkalan. Aku bantu doa di setiap akhir salatku. Naura.” 

Hati Gus Maknun tak menentu. Gugup bercampur berbagai macam bahagia dan salah tingkah menjadi satu. Sehingga Adilah yang menjadi sasaran tembak amunisi berupa adonan tumpah dalam hati Gus Maknun itu.
Nang-neng, neng-nang, neng-nong.. Terima kasih, Tuhan..  Plak!”, luapan gembira Gus Maknun diiringi pukulan hangat yang mendarat di punggung Adi.

Adi yang sedari tadi membaca diktat untuk pelajaran yang besok diujikan hanya bisa nyengir bercampur seribu tanda tanya.

“Aku dapat sms dari Ning Naura, di..”, ucap Gus Maknun sembari bergeser lebih mendekat pada sahabatnya itu.

Adi hanya membalasnya dengan senyum. Tak berselang lama, semua pun kembali pada diktat yang akan diujikan besok. Gus Maknun kembali tenang di kamarnya. Adi melanjutkan membaca meskipun tadi agak sedikit kacau oleh ‘gus’ yang juga sahabat karibnya itu.

Minggu-minggu imtihan terlewati. Wajah-wajah ‘plong’ tergambar di banyak wajah mahasiswa Al Azhar. Di sisi lain, tidak menafikan wajah yang penuh pesimis dan bermuram-durja yang juga bisa dilihat di sebagian mereka.

Lain dengan dua sahabat ini, Gus Maknun dan santri abahnya, Adi. Sore itu, mereka berdua nampak akan pergi ke Ahram (baca: pyramid). Membawa tas gendong di masing-masing punggung. Adi juga terlihat membawa satu kresek bekal makanan. Mereka bergegas ke stasiun kereta Metro bawah tanah dan mencari jurusan Giza.

Letak pyramid tidak tepat berada di depan pemberhentian Metro, Giza. Jadi, mereka harus berjalan lagi menuju pintu masuk gerbang lokasi pyramid. Terik memompa panas yang langsung menyorong kulit manusia yang dibiarkan terbuka. Sebaliknya, musim dingin kadang meniupkan angin yang seolah baru saja keluar saat pintu kulkas dibuka. Mereka berdua nampak menggebu-gebu untuk segera sampai di pyramid meski ini sudah yang ke sekian kalinya.

“Di, ayo kita lari. Siapa yang sampai dan mendapatkan senja di pyramid, pastilah ia yang akan pulang lebih dulu dengan lancar ke Indonesia dan segera menikah.. haha..Oke?”, tantang Gus Maknun.
“Oke, siapa takut ?!?”, jawab Adi dengan tawa kecil dan mencuri start lebih awal.
“Ayo, gus.. Aku duluan.. haha”, seru Adi.

Tanpa banyak kata, Gus Maknun mengawali larinya yang sedikit tertinggal oleh Adi. Sedikit tergopoh-gopoh karena ia tak biasa lari. Apalagi posturnya yang sedikit tambun setelah lama tak bekerja. Tapi, berbeda dengan Adi. Ia agak kerepotan dengan kresek makanan yang ia bawa. Adi mencoba mengendalikan suasana. 

Gus Maknun semakin mempercepat langkah. Sekarang, mereka berdua berlari tepat bersebelahan dengan tangan yang saling menyiku dan berseteru. Di hati mereka, gurauan yang berujung dengan kata ‘senja’ itu nampak menjadi hal yang luar biasa. Seolah sayembara dengan upah kepastian.

Mereka berebut senja dan berebut asa, mengobar semangat rantau. Mengais pelajaran di negeri Paman Fir’aun, bukan Paman Sam. Terlihat mata yang penuh semangat untuk menggapai sebuah komitmen. Semangat, asa, cita, cinta, dan persahabatan melebur dalam lari itu.
***

Ada raut sedih di wajah Adi, juga Gus Maknun. Namun, sedih di wajah Adi nampak hanya sebatas sebuah hormat dan rasa persahabatan yang tinggi terhadap Gus Maknun. Adi yang baru tingkat 2 naik ke tingkat 3. Sedangkan, Gus Maknun harus mengulang di tingkat 4 dan menunda rencana pulangnya tahun ini.

Bukan kesedihan biasa yang ada pada Gus Maknun. Ada rasa was-was yang ikut bergabung dalam sedihnya. Ning Naura di Bangkalan, mengulang di tingkat 4, dan ibunya yang mendengar kabar ini. Hal itu berkumpul dan merupa pisau yang menusuk hati dan mencipta luka, menjelma kesedihan. Ya. Kesedihan dalam diri Gus Maknun.

Sebenarnya, kedua keluarga Gus Maknun dan Ning Naura sudah tinggal selangkah lagi untuk kemudian meresmikan mereka berdua dalam sebuah prosesi keagamaan sebagai syarat menjadi ibadah dan pertanda dua insan berpasangan resmi menyatu sekaligus menjadi penyatu bagi dua keluarga itu. Namun, jarak yang tinggal selangkah itu harus terpisah jurang melebar yang sudah dituliskan Tuhan dengan jalan gagalnya Gus Maknun dalam ujian.

Semua berlalu. Hari-hari seperti berubah menjadi senja tanpa mentari pagi. Mendapat senja dalam kesedihan dan kesedihan di setiap senja, terus menerus merundung Gus Maknun. Terlebih, ada pesan dari Ning Naura yang menyampaikan kabar bahwa ia akan segera disunting oleh seorang ‘gus’ dari Jombang. Bahkan, tanggal dan semua perhelatan sudah tersusun dalam rencana yang rapi. Sehingga, ibarat guyuran hujan yang memadamkan api unggun, api unggun empunya Gus Maknun dan Ning Naura. Padam perlahan tapi pasti dalam guyuran hujan.
***

Setahun berlalu. Meski api unggun yang terguyur hujan hanya tersisa kenangan, Gus Maknun nampak ceria di pagi ini. Ia sedang mempersiapkan barang-barangnya untuk dibawa pulang ke Indonesia. Kawan-kawan yang selama ini tersebar di berbagai sudut Kairo berdatangan untuk melepas Gus Maknun pulang. Sebagian mereka dapat masuk dan ikut mobil travel menuju bandara. Sebagian lagi terpaksa mengantar hanya sampai ujung jalan, jalan di mana mobil itu menghilang di kejauhan dan keramaian jejalan Kairo.
 
Menuju senja, saat-saat terakhir Gus Maknun berpisah dan menjauh pulang dengan pesawat terbang, kawan-kawan berkumpul dan menjabat erat seerat hati mereka pada Gus Maknun yang menjelma sebagai sesepuh sekawanan mahasiswa Indonesia di Mesir.

“Di, semangat ya.. Aku tunggu kabar bahagiamu, mendapat nilai sempurna di akhir belajarmu!”, pesan Gus Maknun pada sahabatnya, Adi.
“Iya, gus.. Doakan aku, gus, aku mendoakanmu..”, ucap Adi diikuti sesak dan gemuruh dalam dadanya.
“Iya, kita saling doa-mendoakan..”, jawab Gus Maknun.
“Eits, jangan pakai ‘gus’ kalau berdoa ya.. hehe”, imbuh Gus Maknun sembari tertawa kecil.
“Nun, jangan lupakan aku ya..”, kata seorang kawan di samping Adi.
“Iya, Nun.. Besok jangan lupakan kami kalau sudah sukses..”, sergah kawan berbaju batik yang disusul sejumlah kawan lain.

Maknun, Maknun Jauhary, lelaki berdarah ningrat dari sebuah keraton berwujud pondok pesantren, kelahiran Semarang 30 tahun silam beranjak masuk untuk boarding pass. Ia masuk dengan lambai-tangan terakhir pada kawan-kawan mereka, juga air mata yang terbendung menggenang di sudut berpasang-pasang mata. Sampai bertemu, Nun.. Semoga selamat sampai rumah dan bahagia bertemu ibumu.
***

Di suatu hari, Adi rindu Gus Maknun dan mengingat-ingat percakapannya dengan sahabatnya itu.
“Kamu janji nggak cerita ke orang lain?”, tanya Gus Maknun memastikan.
“Iya, gus.. Sumpah lah.. Aku berani deh dikutuk jadi orang sholeh. hehe”, jawab Adi sembari guyon.

“Yang paling besar persennya di antara beberapa ‘ning’ yang dijodohkan denganku ya Ning Rere. Aku dikenalkan paklikku. Meskipun bukan putri kyai sih sebenarnya.. Ia hanya memiliki darah kyai. Kalau tidak salah, kakeknya dulu kyai besar di Magelang. Namun, semenjak kakeknya meninggal pondoknya senasib dengan pondokku, lapuk dimakan waktu. Terlebih lagi, almarhum abahku itu pernah mondok di pondok kakeknya dulu. Itu yang membuat aku pesimis dapat lampu hijau dari ibu...”, kata Gus Maknun cerita panjang lebar.

“Oh, gitu.. Sebentar, gus.. Sebenarnya, aku agak asing dengan sikap sampeyan. Dari awal kok pasti terbebani titah ibu sampeyan. Bisa dibilang, sampeyan itu hanya memiliki 30% suara untuk memilih istri sampeyan sendiri. Kok bisa itu lho? Lha, sampeyan sendiri to yang mau menikah, aku bilang seperti ini terlepas dari takzim dan adab pada bu nyaiku lho ya, hehe. Lha, apalagi sampeyan putra mahkota..”, sanggah Adi.

“Iya, Di.. Aku nggak berani menentang sedikitpun titah ibu. Apapun itu. Termasuk menentukan istri. Pokoknya kalau ibu nggak ‘sreg’ ya aku angkat-tangan. Aku cukup bahagia diberi 30% dengan didengar pendapatku oleh ibu tentang semua ‘ning’ yang dijodohkan denganku. Dan lebih bahagia jika ibu memberiku restu..”, jawab Gus Maknun dengan senyum simpul.
***

Suatu sore, saat Adi berjalan hendak pulang menuju imarahnya (Arab: rumah kos seperti rumah susun), hapenya berdering tanda ada pesan masuk. Ia buka. Ternyata, itu pesan dari Gus Maknun di Indonesia.

“Salam, Di, alhamdulillah, aku sudah lamaran. Resepsinya 2 bulan lagi. Oiya, sampai lupa.. Namanya Rere. Salamku untuk kawan-kawan ya, minta doanya..” 

Dalam hati, Adi gembira mendapat kabar itu. Belum genap 2 bulan setelah kepulangan Gus Maknun ke Indonesia, ia sudah menemukan jodohnya. Gembira dalam hati itu mencair dan keluar dalam senyum lepas sore itu.

Namun, ada hal aneh setelah ia merenung saat hendak tidur.
“Rere? Ning Rere? Bukankah Ning Rere itu yang diceritakan penuh pesimistis oleh Gus Maknun? Tapi, kenapa Gus Maknun bisa secepat itu ya?”, gumamnya dalam hati yang berakhir memejamkan mata untuk menyongsong kuliah esok pagi.
***

Gus, ada Fbnya Ning Rere kan?”, tertulis singkat dalam sms Adi untuk Gus Maknun.

Tak berapa lama ada pesan masuk, “Iya, ada. Cari saja di pertemananku yang terakhir. Namanya Rere. Fotonya gadis dengan kerudung merah muda, duduk di tepi pantai..

Ndak ada, gus.. Ndak ketemu. Ada Rere tapi daerah asalnya bukan Magelang. Ndak ada, gus..ndak ada Ning Rere”, bunyi sms balasan dari Adi.

Gus Maknun membalas, “Yaa itu. Namanya Rere Nurmala. Putri kyai Mursyidi dari Probolinggo itu lho.. Aku memanggilnya Rere. Kalau orang-orang manggil dia Mala. Doakan semuanya lancar ya, sampaikan salamku untuk kawan-kawan jangan lupa,

Bibir Adi tersenyum lebar. Rere yang ia kira Hanna Reza, cucu kyai besar dari Magelang itu ternyata bukan. Namanya sama Rere, tapi beda orang.
Oalah, apa malaikatnya ndak bingung ya kalau Gus Maknun manggil Ning Mala itu Rere juga? Gustiii, gustiii.. Ada-ada saja,”, ucap Adi dalam langkahnya yang disambut senja dan senyum-senyum sendiri.[]

Kairo, 2 Februari 2013
Sehabis ke ma’radh buku seharian dan ATM Error. hehe
sumber gambar: loovelyrara.blogspot.com

Comments

(2)
  1. mantaapp memotivasi saya untuk ikut menulis ni, sepertinya,,..

    ReplyDelete
  2. Mari, kawan.. Mari menulis.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment