Mengais Fenomena Negeri Seribu Wali V

unta | wide image
(sumber: Dok. pribadi)
sebelumnya: Mengais Fenomena Negeri Seribu Wali IV 

Fenomena yang akan diangkat kali ini tentang 'jagal'.

Di Mesir, kita akan banyak menemui 'tempat penjagalan hewan', mulai dari ayam, burung unta, kelinci, kambing, sapi, hingga unta. Lantas, apa bedanya dengan yang ada di nusantara?

Yap! Hewan-hewan tersebut bebas, tanpa diikat, atau dikurung dalam kandang. Tak jarang saat melewati tempat-tempat seperti itu, langkah kita akan melambat atau bahkan terhenti karena ada hewan yang sedang 'muter-muter' di sekitar situ. Okelah, kalau ayam, kelinci, atau kambing tanpa tali pengikat, tapi kalau sapi? Atau unta?
Sore tadi, aku dan kawanku sedang jalan-jalan di kawasan Sayyidah Zaenab menuju stasiun Metro (kereta tunnel bawah tanah). Eh, ada yang menarik!

Ada banyak sapi dan unta yang menanti 'eksekusi' si tukang jagal. Parahnya lagi, lokasinya berada di tepi jalan raya sehingga sesekali membuat pengguna jalan melambat.

Setelah mengambil beberapa gambar, aku masih penasaran dengan unta yang bebas itu. Apa yang terjadi saat aku menoleh ke belakang?

Satu ekor unta hendak menyeberang jalan, namun kembali lagi ke tempat semula sebelum mencapai setengah badan jalan. Sambil meneruskan langkah, aku tersenyum kecil, hitung-hitung sebagai tanda perpisahan dengan unta itu. he-he..
Gallery:
Tali yang ada di leher tidak diikat pada tiang pancang atau semacamnya.

Yang ditutup kain itu daging yang sudah diproses, tinggal timbang, bayar, dan bawa pulang.

Rasanya sama seperti daging kebanyakan, bedanya itu pada 'sensasi' nggigitnya. Lebih kayak 'krenyes-krenyes' dan empuk lah. Idhul Adha kemarin, kami nyate unta. :D

Ini di tempat jagal yang aku ceritakan di atas. Ada onta, sapi, kambing.


Write a comment