Untuk Mahmud, Si Bocah Laut

"Habis, maaf ya..", kata Anak Buah Kapal (ABK) yang masih bocah sambil melirik tempayan plastik.

Sebelumnya, ia nampak berjalan menuju dapur kapal yang berada di bagian tepi kanan depan. Tidak lama ia ke dapur, membuatku berpikir ia tak sungguh-sungguh mencari barang segelas-dua gelas air minum untuk kami yang kehausan.

Saat itu, kami berada di sebuah kapal penyeberangan di kota pariwisata Mesir; Hurghada. Rekreasi ini bagian dari agenda PPMI Mesir setelah sebelumnya bertamu di rumah Grand Syaikh Azhar di provinsi Luxor.

Melihat kota kecil Hurghada ialah melihat bagaimana keseriusan pemerintah Mesir mengelola tempat pariwisata yang menjadi magnet dunia. Kita bisa merasakan tata kota yang rapi, kebersihan yang relatif lebih terjaga dibanding kota-kota lain (terlebih ibu kota), serta manajemen transportasi yang berbeda.

"Mahmuuuuud, kamu siapkan tali jangkarnya!", teriak ABK lain pada bocah yang sedari awal menarik perhatianku ini.

Bocah ini menuju dek kapal bagian depan, membuka sebuah kotak kecil yang menyatu dengan lantai. Tali-tali yang hampir sama besarnya dengan lingkar pergelangannya, ia tarik jengkal demi jengkal membentuk lingkaran.

"Sudah?", tanya kawannya sembari meminta ujung tali.

Tidak ada jangkar yang dilempar sebab tali-tali pengait di bawah laut sudah tersedia. Mereka tinggal mengaitkan ujung tali dari perahu dengan tali yang menyembul dari dalam air.

Aku dan teman-teman sampai pada pulau yang bewarna biru dan ramai pengunjung bahkan terlihat sampai ujung mata ini memandang. Tidak ada dedaunan hijau tumbuhan, tidak ada batang melengkung pohon kelapa yang menyapa, tidak ada pantai seindah pantai Indonesia.

Bagi orang udik sepertiku, melihat tepi pantai Hurghada tentu berbeda dengan pandangan teman-teman yang sudah pernah ke pantai-pantai Bali. Paling tidak; gambaranku tentang Bali tidak senyata teman-teman yang pernah berkunjung ke sana. Bule-bule yang hanya berpakaian-dalam asyik dengan anak-anak mereka, suami, juga sanak famili. Aku? Sibuk beradaptasi dengan suasana yang belum pernah kuhadapi sebelum ini.

"Kalian nanti berkumpul di sini pukul 02.30 ya.. Ingat ya, jangan habiskan waktu di sini sebab setelah ini kita ke tempat lain!", kata ABK yang sedari awal bertugas memberikan pengarahan-pengarahan.

Aku orang udik tapi kampungku tak jauh dari pantai Selatan Jawa. Melihat pantai ini tidak ada yang istimewa kecuali warnanya yang biru memikat, pasirnya yang putih, serta tempat sampah yang sukses melaksanakan fungsinya.

Satu yang ganjil; aku tidak bisa berenang. Meski semasa SD kulitku menghitam sebab seringkali mencari 'yutuk' (Tidak tahu? Googling dengan kata kunci: Emerita sp), aku sekarang benar-benar lupa bagaimana cara berenang dan menyelam seperti dulu. Yang kuingat hanya betapa bahagianya bersama teman-teman masa kecilku dan satu kresek 'yutuk' yang tetap tidak berhasil membuat ibu menafikan khawatirnya.

"Ayo! Kita lanjutkan perjalanan! Kapal Prince Ahmed kumpul..", teriak ABK tadi sambil berkeliling mengarahkan teriakannya pada pengunjung yang berwajah Asia.

Aku tidak melihat Mahmud sepanjang kami berada di pantai. Aku tahu belakangan bahwa ia bertugas mengepel dek saat tidak ada orang di kapal.

Perahu kecil mengantarkan kami dari tepi pantai menuju kapal wisata, kapal yang kusebut "kapal-penyeberangan" tadi. Bentuknya yang mewah tidak lantas membuatku mengatakan bahwa kapal ini 'kapal pesiar dalam ukuran kecil' sebab fungsinya ya tetap tidak jauh beda dengan kapal penyeberangan di Teluk Penyu Cilacap. 

Kami menuju titik terumbu karang untuk snorkling. Namun, kali ini aku tidak akan bercerita tentang terumbu karang ataupun snorkling. Aku lebih tertarik bercerita percakapanku dengan Mahmud, bocah 13 tahun yang jadi ABK.

"Sebentar ya, ada yang sedang menyalakan keran belakang, jadi kran dapur mati.", katanya menjawabku yang meminta air keran. Haus sudah tidak bisa ditahan lagi. Air keran hidup tapi ia bilang bahwa tidak ada air. Mungkin sebab mereka kira air keran bukanlah air minum bagiku.

Singkat cerita, aku berhasil menangkap ia termenung walau tak lama. Dari sini kami berdua mengawali percakapan sambil sesekali melihat air di tepi kapal yang tersingkir meminggir.

"Namaku Mahmud, 13 tahun menuju 14 dalam enam bulan ke depan.", katanya menjawab.

Bocah yang berasal dari provinsi Kafru-Syaikh ini sudah setengah tahun lebih bekerja di kapal ini. Ia ikut dengan salah satu sanak saudara yang juga bekerja di sini.

Aku lantas teringat saat aku bertemu dengan 'arek-arek sepur', sekelompok anak kecil berumur rata-rata 10 tahun yang hidup di kereta Surabaya-Jakarta. Saat itu, aku tergerak lebih mendahulukan pertanyaan mengenai sekolah, mengenai keinginan sekolah baru berlanjut cita-cita dan keluarga. Aku coba bertanya sama pada Mahmud.

"Aku sudah lulus SMP, sekarang seharusnya di kelas 2 SMA.", katanya disusul tanyaku memintanya memperjelas cerita.

Ia melanjutkan, "Aku sering bolos sekolah selama setahun. Wali kelasku menyuruhku supaya tidak usah sekolah saja. Aku berkali-kali dimarahi.. Aku sudah berniat membaik tapi ia sering sekali memarahiku.."

"Aku tidak bisa naik kelas. Tidak, aku tidak dikeluarkan dari sekolah.", katanya diiringi matanya yang tak tentu arah.

Saat kutanya mengenai dua pilihan antara sekolah dan bekerja ia menjawab, "Dua-duanya. Dua-duanya kalau bisa.."

Aku mencoba menyinggung sebab ekonomi keluarga. Ia dengan mantap menjawab bahwa bukan karena itu sebab keluarganya tergolong masyarakat menengah. Sekolahnya juga gratis.
 
"Aku hanya lebih memilih bekerja saja jika seperti itu.. Aku lebih senang bekerja terlebih di laut.", matanya yang coklat sesekali menguatkan gambaran apa yang ia ceritakan.

"Iya.. Maksudku jika terus dimarahi dan aku harus tinggal kelas, ya aku lebih memilih bekerja."

Perjalanan menuju dermaga sore itu disambut ratusan ubur-ubur yang berjalan berlawanan arah kapal. Obrolan kami sempat terputus, berganti membahas ubur-ubur, ikan hiu, dan paus. Ia juga sesekali bertanya tentang Indonesia. Ia agak tidak percaya dengan gambaran kekayaan alam yang kuceritakan.

Kami kembali bersandar, duduk di tepi pembatas kapal.

"Orang tuaku marah. Tentu. Aku ke sini, mereka marah. Mereka menyuruhku tetap sekolah. Tapi, beberapa waktu ini mereka sudah acuh. Kata ayahku, 'Kalau maumu seperti itu ya sudah sana bekerja. Kerja yang benar dan dapat uang benar.' Ya sudah..", katanya menatapku dalam.

Aku minta izin mengambil fotonya lalu berfoto bersama. Aku ingin mengabadikannya dalam foto dan tulisan.

"Iya.. Beres..", jawabnya pada suara yang aku yakin itu perintah.

Setelah itu, ia dan satu ABK kembali membuka kotak yang menyatu dengan lantai. Kawannya mengambil jangkar kecil guna mengambil tali dermaga yang menyembul dari dasar laut. Kapal yang kami tumpangi tak kunjung usai mencari posisi menepi yang pas.

Ucapan terima kasihku usai foto menjadi kata perpisahan terkahir. Aku tak banyak berpesan padanya. Dua kalimat dan semoga tidak tenggelam ke dasar laut Hurghada atau dibawa sekawanan ubur-ubur, "Mahmud, usiamu ialah usia bahagia dan usia efektif belajar, maka bahagialah tapi jangan berhenti belajar. Aku bukan orang tuamu juga bukan wali kelasmu itu, aku hanya temanmu yang ingin melihatmu benar-benar bahagia, bukan sekarang tapi di masa tua."[]

Kairo, 7 Juli 2014
Mu'hid Rahman, blogger di zuwayla.blogspot.com







Write a comment