Garis-garis Kehidupan Al-Halwagy

Dari desa Al-Syabul di Mesir hingga London di Inggris. Perjalanan hidup seseorang yang dituliskan semenarik saat ia dituturkan di sela muhadarah.

Sampul depan buku autobiorafi Aqdar. | wide image
Sampul depan Aqdār.
Mula-mula saya tertarik pada buku ini saat mendengar pertama kali beliau bercerita di salah satu kelas, di sela-sela muhadarah. "Saya menulis buku autobiografi dengan judul Aqdār (Garis-garis Kehidupan) karena saya melihat hidup saya dipenuhi takdir Yang Maha Kuasa. Dahulu tak pernah terpikir bisa sampai mengambil jurusan bahasa Arab, diploma Tarbiyyah (pendidikan), hingga berkesempatan belajar ilmu-perpustakaan di London. Semua itu digariskan olehNya.", kata beliau mengakhiri sebuah cerita yang juga termaktub dalam buku ini. Sejak saat itu, beliau kerap mengisi intermezo dengan sejumlah potongan kisah-hidupnya.

Bagi seorang murid berbangga dengan gurunya adalah hal yang lumrah terjadi. Bahkan saking bangganya, di dunia pesantren misalnya santri bisa begitu identik dengan guru yang dicinta hingga pada gaya ia berjalan. Bisa jadi hal itu bermula dari perasaan bangga dan kedekatan pada gurunya.

Melalui ulasan sederhana ini, saya ingin memantaskan-diri menjadi murid yang berbangga dengan guru saya yang satu ini, Prof. Abdel-Sattār Al-Ḥalwagy. Meskipun dalam perilaku, kedisiplinan, dan kejelian saya jelas tak ada miripnya dengan beliau. Kalaupun harus dibuat amsal, saya bak hitamnya kuku pada ujung jari.

Judul
Aqdār: Sīrah Dzātiyyah
(Garis-garis Kehidupan: Sebuah Autobiografi)

Penulis
Abdel-Sattar Al-Halwagy

Penerbit
Al-Haiah Al-Misriyyah Al-'Ammah lil Kitab, Kairo, 2018

Tebal
240 halaman

Harga
20 Pound Mesir
(setelah diskon: 18 Pound Mesir)
berkisar Rp 18 ribu

Latar Belakang Penulisan

Dalam mukadimah, Duktur Al-Ḥalwagy menyatakan bahwa ia selama ini ragu menuliskan dirinya. "Bukan sebab ia (autobiografi) ini tak layak ditulis, melainkan sebab 2 hal lain.", tulisnya.

Pertama, karena kehidupan seseorang penuh dengan situasi dan lelucon. Cenderung mudah dituturkan, susah dituliskan. Ia sama halnya dengan guyonan yang bergantung pada gaya bertutur. Jika ditulis, ia 'kan kehilangan kemampuan membuat orang tertawa dan terhibur.

Kedua, karena autobiografi seseorang itu termasuk sejenis karya sastra yang luhur (al-Adab al-Rafi'). Ditulis oleh para budayawan dan tokoh agung yang cerita hidupnya layak ditulis. Ia mencontohkan Al-Ayyām milik Taha Husein, Ḥayatī yang ditulis Ahmad Amin, Ḥayat Qalam-nya Al-'Aqqād, dan Ma'ī Syauqi Daif.

Melalui pengantarnya, Duktur Al-Ḥalwagy ingin menegaskan fenomena yang menurutnya kerap bermunculan belakangan. "Kita membaca (sejumlah autobiografi) ini berharap menemukan tambahan wawasan dan memperkaya akal-budi. Sekarang banyak orang memenuhi medan ini dan beragam pula motivasi menulisnya."

Ia menyinggung adanya sebagian orang yang menulis autobiografi sebagai iklan dan usaha pemasaran dirinya (Al-Di'āyah wa Al-Taswīq li Nafsih). Juga adanya sebagian orang yang menganggap dirinya hebat, dahulu murid terbaik lalu menjadi guru yang tak terkalahkan, seorang alim yang tiada tanding, penulis yang karya-karyanya mampu dijadikan pondasi terbesar bagi patung apapun di medan manapun. Sementara ia sendiri yang baik, bersih, dan pahlawan yang terhormat. Orang lain semua kotor dan korup. Padahal khalayak pun tahu bahwa ia sendiri justru yang demikian.

Sebagaimana umumnya orang alim yang telah mendapati banyak pengalaman hidup, Duktur Al-Ḥalwagy menyesalkan fenomena hari-hari ini. Menurutnya, siapapun yang hendak menulis autobiografi di zaman ini dengan niatan apapun bahkan seburuk penyebaran kebohongan dan penyesatan publik itu bisa naik cetak. "Dahulu, penerbit buku terbatas jumlahnya. Setiap penerbit mengharuskan buku-buku untuk dinilai terlebih dulu sebelum terbit demi menjaga nama baiknya. Sementara sekarang penerbitan seperti ladang bagi siapapun orangnya (Kullu Man Habba wa Dabba), pun menjadi mudah nan cepat dibantu teknologi yang maju. Setiap orang mampu menulis apapun yang dikehendakinya. Menyebarkan apapun yang baik di matanya dengan dalih kebebasan berpikir dan berkreasi."

Tak hanya tentang dunia penulisan, Duktur Al-Ḥalwagy menyinggung bidang lain seperti jurnalistik, musik, hingga tilawah Alquran. Semua orang sekarang bebas berekspresi, mendistribusikan, dan memutar apapun meski isinya omong kosong, lirik lagunya tak jelas, suaranya buruk. "Didukung dengan musik yang berisik, disimpan dalam kepingan media penyimpanan, diputar para sopir angkutan-umum dan pemotor di jalanan. Dengan suara yang bukan hanya berisik bagi orang yang dilewati, melainkan juga sampai membuat was-was penghuni di dalam rumah masing-masing."

Atas dasar itulah yang membuat Duktur Al-Ḥalwagy pada mulanya selalu meminta maaf tiap kali teman-temannya, murid-muridnya memintanya untuk menuliskan sebuah autobiografi dirinya. Ia dengan rendah-hati menegaskan bahwa dirinya lantas berhasil menulis bukan dengan maksud mengabadikan 'kepahlawanan buatan' (Buṭūlāt Musṭana'ah), "Saya dahulu tak pernah seharipun menjadi yang pertama di madrasah saya, juga di kelas. Saya hanya seorang murid pada umumnya.", tulisnya.

Ia juga tak bermaksud menjawab kritikan apapun atau membela diri dari siapapun. Toh menurutnya, pohon yang berbuah lebatlah yang menjadi sasaran lemparan batu.

Tak Banyak Tarikh

Dalam beberapa kesempatan saat mengisi kuliah, Duktur Al-Ḥalwagy sering menyampaikan bahwa dirinya tak suka membebani muridnya dengan hafalan tarikh dan penanggalan. Kalaupun terpaksa harus menyebutnya, ia akan memilih mempermudah pemaparannya dalam susunan lini-masa. Misalnya saat ia memberi contoh kitab apa saja yang menjadi sumber biografi ulama dalam mata-kuliah Kepustakaan & Referensi Umum (Al-Masādir wa Al-Marāji' Al-'Ammah). Beliau memaparkan awal mula penulisan biografi dalam khazanah Islam melalui Wafayāt (kitab catatan kematian) yang kemudian dibatasi abad lalu mengelompokkannya berurutan (dalam Hijriah):
· Ibnu Ḥajar Al-'Asqalāni sebagai pionir dengan Durar al-Kāminah fī A'yān al-Mi'ah al-Tsāminah (abad ke-8);
· Al-Sakhāwī dengan Al-Daw'u Al-Lāmi' li Ahli al-Qarn al-Tāsi' (abad ke-9),
· Al-'Aydarūs dengan Al-Nūr Al-Sāfir 'an Akhbāri al-Qarni al-'Asyir (abad ke-10);
· Al-Muḥibbī dengan Khulāsat Al-Atsar fī A'yān al-Qarni al-Ḥādī 'Asyar (abad ke-11)
· Al-Murādī dengan Silk Al-Durar fī A'yān al-Qarni al-Tsānī 'Asyar (abad ke-12)
· Al-Bītār dengan Ḥilyat Al-Basyar fī Tārīkh al-Qarni al-Tsālīts 'Asyar (abad ke-13)

Yang saya rasakan di kelas, pemaparan demikian lebih memudahkan murid yang kapasitas hafalannya pas-pasan seperti saya untuk mengingat dan menyusunnya dalam urutan waktu.

Dalam buku autobiografi ini juga nampaknya demikian, Duktur Al-Ḥalwagy hanya sesekali menyebut tahun. Lebih sering hanya mengisyaratkan bahwa kejadian itu terjadi pada paruh awal 50-an misalnya. Menariknya, bahkan dari awal hingga akhir tak sekalipun tanggal lahir disebut.

Anak Desa

Duktur Al-Ḥalwagy lebih memilih menggambarkan suasana desanya yang terletak di dekat danau Al-Manzalah, "Di tepian danau Al-Manzalah terdapat sebuah desa kecil yang ikut kecamatan Al-Manzalah, provinsi Al-Daqahliyah bernama Al-Syabūl. Separuh penduduknya bertani sementara separuh lainnya mencari ikan di danau yang terletak di Utara desa.

Dari bibir danau, desa Al-Syabūl hanya berjarak kira-kira 1 kilometer. Terhubung dengan sebuah jalan yang oleh khalayak diberi-nama Sikkah Al-Jabbānah (Jalan Kuburan) karena ia berujung pada pekuburan desa di ujung paling Utara. Di tengah sana, di puncak bukit itu terletak makam Syekh Zain yang kubahnya menjulang menarik mata memandang.

Sementara beberapa langkah dari kuburan, jalan ini mengantarkan pada sebuah dermaga tempat sampan-sampan bersandar di tepiannya. Sampan yang berjumlah puluhan itu untuk menjaring-ikan. Sedangkan sampan pengangkut penumpang yang ukurannya lebih besar itu oleh penduduk desa kerap disebut Markab Al-Daur (Angkutan Bergilir) karena secara bergiliran ia mengangkut penumpang dan barang-barang menuju kota Port Said dimulai bakda zuhur tiap harinya. Desa Al-Syabūl - Port Said pulang dan pergi."

Alih-alih menyebutkan tarikh lahirnya, Duktur Al-Ḥalwagy justru bercerita tentang berbagai riwayat asal-muasal marganya: Al-Ḥalwagy. Ada yang menyebut moyangnya datang dari Turki dan berprofesi sebagai penjual manisan, Al-Ḥalwa, sementara dalam bahasa Turki tambahan -gy menunjukkan pekerjaan, seperti Kabab+gy (penjual Kebab) dan Busṭa+gy (tukang pos). Ada pula yang menyebut hal itu karena moyang mereka dahulu mendiami sebuah desa bernama Mīt Badr Al-Ḥalāwa yang terletak di sebelah Timur Nil dan masih ada hingga sekarang. Hanya saja mereka hijrah meninggalkannya saat dilanda banjir dulu kala.

Kakek jauh di keluarga Al-Ḥalwagy yang menetap di desa Al-Syabūl ini mempunyai 4 putra: Muhammad, Hasan, Abdul Hayy, dan Utsman. Sementara Abdul Hayy kelak mempunyai beberapa putra yang salah satunya diberi nama sama: Abdul Hayy (ayah Duktur Abdel-Sattār). Tapi karena pegawai pencatat kelahiran di Kementerian Kesehatan meletakkan 2 titik huruf ya' di sebelah atas alih-alih di bawah sebagaimana seharusnya, namanya menjadi lebih dikenal dengan Abdul Haq (ya' menjadi qaf). Abdul Hayy inilah yang kelak menamatkan studinya di Al-Azhar dan menjadi seorang syekh hingga mempunyai putra bernama Abdel-Sattār, penulis buku ini. Duktur favorit saya: Prof. Dr. Abdel-Sattār bin Abdul Haq bin Abdul Hayy Al-Ḥalwagy.

Teguh pada Prinsip

Dalam buku ini, Prof. Abdel-Sattār Al-Ḥalwagy membagi beberapa babak hidupnya dalam sub-bab dengan nama kota-kota yang berbeda. Dari lahir dan tumbuh di desa, kemudian menuju kota Port Said di mana ayahnya menjadi imam & khatib serta guru sekolah, lalu Kairo, Aswan, London (Inggris), Riyad (Arab Saudi), San'a (Yaman).

Pembaca serasa diajak ikut melihat bagaimana perjalanan hidup Duktur Al-Ḥalwagy hingga pada detil pertumbuhannya. Mengenal tradisi keluarga di desa-desa Mesir. Pertemuannya dengan beragam sosok yang hadir dalam hidupnya. Juga betapa kritis dan teguhnya beliau pada beberapa hal yang menurutnya sangat prinsip.

Pada beberapa babak misalnya Duktur Al-Ḥalwagy bercerita tentang ekspresi kemarahannya karena ia merasa tersinggung negaranya direndahkan atau prinsipnya diremehkan. Ia pernah menolak tawaran dari Kuwait untuk mengajar di negaranya sebab perkataan seorang pejabatnya yang terkesan merendahkan harga-dirinya sebagai seorang Mesir.

Di awal ia mengajar di universitas King Abdul Aziz pernah pula terjadi hal yang membuatnya marah. Saat itu dikisahkan ia diminta membuat sejumlah soal untuk seleksi penerimaan mahasiswa baru. Mungkin saking susahnya soal-soal itu, salah satu murid meminta bantuan pada seorang pengawas ruangan yang juga seorang Saudi. Ia tak mendapat bantuan jawaban tapi anehnya pengawas itu merespon, "Jika saja saya seorang Mesir, akan saya tarik setiap dari kalian 1000 Riyal untuk saya bantu."

Kabar itu sampai ke telinga Duktur Al-Ḥalwagy. Ia mengkonfirmas kebenaran berita itu pada seorang murid, "Apakah Duktur yang menjaga itu berbicara demikian? Dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris? Barangkali kalian keliru menerjemahkan." Murid itu menjawab, "Ia mengatakannya dalam bahasa Arab."

Lalu Duktur Al-Ḥalwagy menuliskan, "Meskipun saat itu ia mendengar kabar bahwa ada sebagian kolega tak masalah menerima hadiah, hal itu justru melukai perasaan pada dirinya dan pada tanah-airnya. Ia saat itu yakin menyampaikan masalah itu dalam sebuah rapat. Bahwa jikalau pun ada sebagian dari orang Mesir yang menjual hati-nuraninya seharga 1000 Riyal, maka ada pula sebagian dari mereka yang enggan menjual hatinya bahkan jika dibayar dengan seluruh harta kerajaan."

Menjaga Privasi dalam Bercerita

Bagian terbaik dalam kehidupan Duktur Al-Ḥalwagy menurut saya adalah kisah perantauannya di London, Inggris. Ada situasi yang relatif mudah dipahami bagi pembaca yang sudah pernah merasakan hidup di perantauan, terlebih sebagai mahasiswa. Dari masa-masa sulit dengan kendala bahasa asing hingga bermasalah dengan tuan-tanah. Semua diceritakan dengan apik dan asyik untuk diikuti.

Hari-hari perjodohannya hingga situasi-situasi krusial bersama pasangan hidup diceritakan oleh Duktur Al-Ḥalwagy runtut. Yang menarik, ia sama sekali tak menyebut nama istrinya kecuali di momen terakhir sebelum maut memisahkan pasangan itu. Pasangan yang disebutnya patut dicontoh oleh generasi sekarang. Kenapa? No spoiler ya! 😂

Selain nama istrinya, nama ibu dan anak-anak perempuannya juga tak pernah disebut sebanyak ia menyebut nama-nama lain. Saya yakin Duktur Al-Ḥalwagy menjaga betul nama-nama dan beberapa detil yang sengaja tak disebutnya itu. Ataukah karena tradisi masyarakat Arab memang begitu menjaga para perempuan kinasihnya?

Sementara momen-momen paling mengharukan dalam buku ini menurut saya adalah saat-saat di mana Duktur Al-Ḥalwagy harus berpisah dengan orang-orang terkasihnya. Dimulai dengan orang-tuanya yang wafat lebih dulu sebelum melihat putranya mendapat pernghargaan dari Arab Saudi. Lalu sahabat karibnya yang kemudian menjadi adik iparnya, Abdul Fattah yang meninggal dunia akhir 90-an. Kemudian adik perempuannya hingga istri tercintanya. Perpisahan demi perpisahan dikisahkan.

Duktur Al-Ḥalwagy menutup buku ini dengan ungkapan bahwa riwayat hidup seseorang masih akan terbuka sampai ia mangkat menuju Tuhannya. "Sahib kita tak tahu masih tersedia berapa halaman lagi untuk buku ini. Besar kiranya ia tersisa hanya beberapa lembar saja. Oleh karenanya, ia sedang memunggungi (meninggalkan) kehidupan, bukan menghadapinya."

Pesan Sang Guru

Buku autobiografi (Sīrah Dzatiyyah) ini menarik dibaca oleh para talib. Darinya para pembaca akan belajar betapa kegigihan itu dibutuhkan saat mencari ilmu. Kehidupan toh tak melulu soal gembira ria dan kenangan manis.

Duktur Al-Ḥalwagy berpesan di akhir mukadimahnya bahwa kehidupan setiap manusia terdapat manis dan pahitnya, baik dan buruknya. Terkadang sesuatu yang dianggap buruk memiliki sisi baiknya.

{وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {البقرة: 216
"..boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Surah Al-Baqarah: 216)

{فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا {سورة النساء: 19
"..karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya." (Surah Al-Nisa': 19)

Pada mukadimah itu beliau menutupnya juga dengan pesan tersurat bahwa (hendaknya) keyakinan seseorang pada Allah tak berbatas karena karuniaNya pun tak terbatas.

Meskipun menurut saya banyak pesan beliau yang tak kalah menarik untuk disimak pada tiap babak kisah-hidupnya, tapi tenang, buku ini bukanlah tumpukan nasehat atau kutipan-kutipan kalimat langsung yang bijak dan menggurui. Banyak pelajaran-hidup yang dikisahkan dengan baik, sederhana, dan dibiarkan terbuka begitu saja untuk kawan pembaca sekalian pahami & simpulkan.[]

Write a comment