Menjelajah Dua Muara Nil: Paman Abdul Moneim (4)

Paman Abdul Moneim
Kami diturunkan setelah jembatan penyeberangan yang sekaligus menjadi batas provinsi Kafr Syeikh dengan Beheira.

“Turun sini ya.. Museum yang kalian maksud ke dalam sana. Bukan di jalur Alexandria-Dimyat ini. Kalian masuk ke kiri di sana itu..”, pesan Pak Sopir diikuti beberapa pasang mata penumpang yang bisa kami tebak pikirannya; “ngapain 5 pemuda asing ke museum malam begini”

Kami turun di dekat sebuah pos. Kami tak tahu pos apa itu. Yang terpenting saat itu adalah tanya di mana letak museum Rashid.

“Salam, Pak.. Kami ingin ke Museum Rashid, dari sini ke mana ya?”, tanyaku.

Satu dari dua bapak-bapak menjawab sambil keluar ruangan, “Kalian mau ke museum? Tutuplah sudah. Ini jam berapa?”

Datang satu kawan mereka yang juga orang setempat, “Wah, ada apa ini pos kamu banyak sekali orang asing, Bung?”

FOTO Kawasan vila Ras al-Bar, Dimyat. | by Qalam Eka Maulana.
“Ini pemuda-pemuda dari Indonesia. Katanya ingin ke Museum Kota. Bahasa Arab mereka bagus, cakaplah sini ngobrol..”, saut seorang dari mereka.

Dalam obrolan, kami menjelaskan satu-persatu maksud kedatangan kami. Ngobrol gayeng ditemani rokok Djarum yang dicoba oleh bapak yang di awal menjawab sapaan kami. Bapak satunya memakai jubah santai, berbeda dengan yang menjawab kami. Ia rapi dengan poloshirt-nya, begitu juga dengan kawannya yang datang dengan motor yang tak lagi muda.

“Rokok kalian aneh sekali ya.. Ini kau habiskan, aku tak kuat.”, Bapak  Penjaga Pos memberikan sebatang rokok Djarum ke kawannya yang baru datang tadi.


Selagi kawannya menikmati Djarum pemberian kami, mereka bertanya banyak tentang Indonesia, juga tentang kami kok bisa sampai di kota kecil bernama Rashid. Ia juga bilang bahwa penginapan di Rashid terbilang murah jadi kami tak perlu khawatir.

“Kalau toh nanti hotelnya tutup, karena perbaikan biasanya.. atau karena mahal, tidurlah di pos sini bersama kami. Beres kan?”, jawabnya menenangkan. Beberapa losmen di Rashid memang sedang dalam perbaikan, tinggal satu yang tersisa. Itupun sebenarnya masih dalam perbaikan. Hanya 2 lantai yang dibuka dari sekian lantai.

Bapak itu mengalihkan pandangan, matanya mengamati setiap lampu kendaraan yang muncul dari kejauhan, “Sebentar, kita carikan angkutan untuk mengantar kamu ke pusat kota sana ya.. Pusat kota jauh dari sini. Ada 7 kilometer mungkin. Sebenarnya kalau siang kalian bisa jalan sebentar di akhir belokan sana, di sana ada angkutan minibus. Tapi kalau sudah larut begini yang tersisa tinggal tuk-tuk (bajaj).”

“Hoi! Tuk-tuk! Tuk-tuk! Sini!”, teriak mereka bertiga beriringan. Dua tuk-tuk lewat kencang enggan menjemput kami.


Bapak yang tadi membawa motor berpamitan hendak pulang dan berjanji akan memberitahu tuk-tuk yang ia temui di jalan untuk ke sini.

“Ini pos pemerintah, santai! Kalian jangan khawatir.. haha.. Ini pos untuk menjaga lahan parkir di sana itu. Lahan parkir untuk armada-armada besar yang lewat jalur Aleksandria-Dimyat ini.”, kata Bapak Penjaga Pos yang kemudian akrab kami panggil ‘paman’.

Tak lama berselang, tuk-tuk melewati pos. Kami berhasil membuatnya menepi. Bapak Penjaga Pos bercakap kecil dengan sopir tuk-tuk. Ternyata ia menawarkan tarif tuk-tuk untuk kami.

“Ini ada tuk-tuk.. tapi seperti yang aku bilang. Minibus di terminal kecil itu sudah tak ada. Kalian naiklah ini. Berlima tak apa. Ini tuk-tuk dalam Rashid sendiri juga. Kalian tak perlu khawatir. Dia meminta 15 Pounds sampai depan losmen kalian. Gimana? Mau? 15 Pounds itu harus sudah sampai losmen lho.. Bener kan, Bung Sopir? Antarkan sampai depan persis ya!”, pesan Bapak Penjaga Pos.

FOTO Tel Abu Mandur, batas paling selatan Rashid, kurang lebih 2 km dari jalan-raya Aleksandria-Dimyat, tempat kami turun angkutan. | captured by Khalil Ma'shum..
Kami sangat bahagia sekali. Pasalnya, kalau sampai tak ada kendaraan yang mau mengantarkan kami, 7 kilometer bisa benar-benar kami tempuh jalan kaki tengah malam. Badan sudah letih pula, terkuras di perjalanan.

Aku mengucapkan salam perpisahan pada bapak di pos, “Terima kasih, pak.. Terima kasih atas segalanya. Orang-orang Rashid sangat baik hati. Terima kasih dari kami, Paman.. Paman siapa namanya?”

“Namaku Abdul Moneim. Semoga selamat sampai tujuan ya dan esok kau jelajahi lah negeri Rashid ini.”

Sepanjang perjalanan masuk ke pusat kota Rashid, aku ingat sebuah pesan yang disampaikan guru kami Syekh Yusri Gabr di pengajian tasawuf. Beliau berpesan bahwa banyak orang malah menjadi “Abdun Ni-mah” (hamba kenikmatan), bukan menjadi “Abdul Moneim” (hamba Dzat Pemberi Nikmat). Ketika kita menjadi hamba kenikmatan, maka nikmat tak akan lama bertahan, terikat batas waktu dan tinggal menunggu habisnya saja. Sebegitu hinakah kita menghamba pada kenikmatan.

Berbeda halnya jika kita menjadi hamba Dzat Yang Maha Memberi Nikmat. Dzat Allah Swt. kekal tiada akhir. Nikmat bukanlah suatu apa. Ada Dzat Yang Maha Agung mencurahkan nikmat kepada kita. Jika kita menjadi hamba Dzat Pemberi Nikmat, Dia akan memberi atau tidak, kita tetap hambaNya. Karena sedari awal kita menghamba padaNya. Bukan serendah menghamba pada nikmatNya.

Terima kasih, Paman Abdul Moneim dan penduduk sekitar pos.. Kebaikanmu menghiasi negeri Rashid. Namamu pun membuatku ingat pesan guru tasawufku. Semoga negerimu selalu terjaga, juga orang-orang baik nan ramah di dalamnya!


“Negeri ini (Rashid) punya banyak sekali pohon delima dan kurma. Penduduknya sedikit, mayoritas pencari ikan dan pemburu burung.. Di dalamnya terdapat banyak masjid yang dikenal makbul untuk memanjatkan doa.. Seluruh penghuninya saling menjaga solidaritas yang kuat.”
—Ibn Duqmaq, al-Intisar li Wasithati ‘Aqdi al-Amsar, 114/II.
(Sejarawan Era Mamluk)

...bersambung di Bagian 2: Rosetta Kota Sejuta Kurma.

Write a comment